rullytheleader.blogspot.com

Artikel Terbaru

[ Vistory ]

KATA PENGANTAR

Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah berkenan melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya dapat membuat blog yang berjudul "Rully The Leader"
dengan baik an lancar.
Blog ini saya buat dengan maksud agar para pemuda sadar akan akibat - akibat buruk atau
baik yang akan terjadi, maka dari itu blog ini saya rancang bebas dari pornografi.
Perkenankan saya mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Syaikhur Rozy, S.Kom
2. Mas dody Kurniadi
3. Kedua orangtua saya yang telah memberikan doa dan restunya.
4. Seluruh pihak - pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu.
Semoga segala bantuan yang telah diberikan kepada saya diterima disisi Allah SWT
sebagai amal shaleh dan mendapatkan pahala berlimpah dari-Nya.
Saya sadar, Blog yang saya susun masih jauh dari sempurna. Maka dari itu, saran
dan masukkan sangat kami harapkan.
Semoga blog yang saya buat ini bermanfaat bagi kita semua. Amin
Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh



Kudus, Januari 2013
Ttd,



Rully Khoirul Anwar

Labels

Tags

Kata - Kataku

“Barangsiapa merintis jalan mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” (HR. Muslim)


“Tuntutlah ilmu walaupun di negeri Cina, karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka kepada para penuntut ilmu karena senang (rela) dengan yang ia tuntut. (H.R. Ibnu Abdil Bar).


“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia maka dengan ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat maka dengan ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki keduanya (kehidupan dunia dan akhirat) maka dengan ilmu.”


“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)


“Tuntutlah ilmu mulai dari buaian sampai liang lahat.”


Jam

Label

Followers

Blog Archive

Pengikut

Twitter

Jumlah Pengunjung

About

Dock Content put in here

Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

Entri Populer

Cari Blog Ini

Popular Posts

Blogroll

Tampilkan postingan dengan label KEBUDAYAAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KEBUDAYAAN. Tampilkan semua postingan

Tradisi Bulusan

Selasa, 29 Januari 2013

TRADISI BULUSAN
Tradisi Bulusan sudah ada sejak sekitar abad 18 M atau pada zaman Wali Songo.
Bulusan berasal dari bahasa jawa "Bulus" yang dalam Bahasa Indonesia disebut kura - kura. Bulus itu semacam kura - kura namun berbeda.
Tradisi Bulusan itu sendiri dilaksanakan  di Dukuh Sumber, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus. Tepatnya disebelah barat Raudhatul Atfal (R.A) Hidayatut Tholibin Dukuh Sumber, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus. Konon katanya, tradisi itu menceritakan tentang sekelompok orang yang di sabda oleh seorang wali. Wali itu adalah Sunan Muria ( Raden Umar Said ). Pada saat itu, Sunan Muria beserta rombongan muridnya sedang melintasi daerah
Sumber. Tiba - tiba beliau mendengar suara "Krubyak .. krubyuk.." disawah. Ketika itu, Sunan Muria mengira hal itu adalah suara "bulus" karena bagaimana mungkin seorang manusia malam - malam masih berada di sawah.
Seketika itu, sekelompok orang yang terdiri sekitar 4 orang ( Semua Perangkat - perangkat Desa ) berubah menjadi Bulus. Mereka meminta agar
dirinya diubah menjadi manusia lagi. Namun ternyata Sunan Muria tidak dapat mengembalikan ke wujud semula karena semua itu adalah takdir Allah. Kemudian Sunan Muria meminta murid - muridnya agar memberitahu seluruh warga Desa Sumber bahwa warga mereka ada yang menjadi Bulus.
Singkat cerita, Sunan Muria memerintahkan agar para warga Dukuh Sumber setiap tujuh hari
setelah hari raya Idul Fitri untuk mendatangi "bulus - bulus" tersebut kemudian memberikan sebagian rizki kepada mereka seperti kupat, dan lepet.
Tradisi ini dilestarikan oleh warga, khususnya warga Dukuh Sumber.  Upacara tradisi Bulusan itu diawali dengan arak- arakan makanan yang dimulai dari sawah yang dinamakan mojo bulus, yaitu sawah dimana dahulu awal mula sekelompok orang yang disabda oleh Sunan Muria dan berakhir di sungai tempat Bulus itu hidup. Tradisi itu juga dimeriahkan dengan
penampilan wayang kulit 24 jam non stop dan menurut pendapat warga sekitar, jika tidak melaksanakan tradisi - tradisi tersebut maka para warga akan mendapatkan kesialan. Sampai sekarang, Bulus yang masih hidup dan ada di sana hanya tinggal seekor. Sampai sekarang tradisi itu tetap dilestarikan oleh masyarakat Dukuh Sumber, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus.

Dibawah ini hal - hal mengenai tradisi bulusan yang sudah saya kumpulkan :
Ilustrasi Cerita Bulusan

Tempat Tradisi Bulusan Dilaksanakan

Sumber : www.picasaweb.com
sumber : picasaweb.com
Rekaman wawancara kepada sesepuh bulusan:
Rekaman Wawancara Sesepuh Bulusan tahap 1


Rekaman Wawancara Sesepuh Bulusan tahap 2


Rekaman Wawancara Sesepuh Bulusan tahap 3

Tradisi Rebo Wekasan

Jumat, 25 Januari 2013


TRADISI REBO WEKASAN di Desa Jepang

Di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, JATENG, Warga menggelar ritual Rebo Wekasan, Selasa (17/1/2012) sore. Ritual itu dikemas dalam bentuk kirab budaya yang diakhiri dengan pembagian air salamun.
Kirab berlangsung sejauh 2 kilometer dari lapangan Kecamatan Mejobo dan berakhir di Masjid Al Makmur atau biasa disebut Masjid Wali. Kirab itu mengusung aneka potensi Desa Jepang, terutama hasil pertanian dan kerajinan bambu atau anyaman.
Kirab itu juga merupakan pelestarian tradisi syiar Islam yang dilakukan seorang ulama bernama Ndoro Ali pada 1925. Dalam syiarnya, Ndoro Ali membagi-bagikan air salamun yang bersumber dari sumur kuno Masjid Al Makmur.
Konon pada zaman dahulu kala, sumur itu muncul setelah Sunan Kudus menancapkan tongkat di sekitar masjid itu. Hal ini terjadi bersamaan ketika Aryo Penangsang membangun Masjid Al Makmur.
"Disebut air salamun karena air itu diyakini bertuah dan menjadi sarana menangkal bala atau ancaman marabahaya. Salamun berasal dari kata 'salam' yang berarti 'selamat'," jelas Kepala Seksi Promosi Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus Mutrikah.
Selain melestarikan tradisi, menurut Mutrikah, kirab itu menjadi sarana mempromosikan potensi desa. Desa Jepang terkenal dengan kerajinan anyaman yang berasal dari bambu.

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Rully The Leader - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger